Sabtu, 28 Oktober 2017

*Hidayah yang Terkejar*

Jantungku berderup kencang, sampai tak terasa air mata mulai membasahi pipi. Hari itu, aq mengantar anakku ke stasiun untuk kembali ke pondokny di Jombang.
Sesampai di stasiun, ada butiran air mata mengalir di mata anak kesayannganku. Sang penghafal Qur'an, kebanggaan keluarga kami. Tapi hari itu, di stasiun dia meneteskan air matanya, sambil berucap: Abi..., aq ngga mau mondok lagi, dengan berlinangan air matanya.
Bagai disambar petir diriku, buah hati kebanggaan kami menangis berlinangan air mata, tdk mau kembali ke pondoknya.

Aku bertanya, kenapa nak?, ngga mau balik ke pondok?
Abi..., sambil air mata semakin deras mengalir dari matanya, hafalanku hilang..., isak tangisnya smakin keras, aq kayak bingung setiap menghafal dan mengikuti kajian kitab, aq kayak orang bingung, dengan isakan tangis yg semakin keras.
Tak terasa, akupun ikut menangis, ada apa anakku?, ada apa?
Ngga tahu Abi, hafalanku hilang, aq tidak bisa menghafal lagi.

Kuputuskan kuantarkan anaku ke pondok, nak, niatkan menuntut ilmu dng benar, berdo'a pada Allah agar diberi kemudahan dlm menhafal Qur'an dan mengkaji kitab.
Sepulang mengantar anaku, aqpun mulai berfikir& berdiskusi dng istri tercinta. Karena buah hatiku adalah pnghafal Qur'an terbaik di angkatanny, namun pd saat aq antarkn ke pondok, aq jadi tahu, buah hatiku hafalan qur'anny yg paling sedikit dibandingkn dng teman2nya.

Dengan istriku kudiskusikn, kenapa bisa, anak kami spt itu?.
Sampai pd satu kesimpulan, apa krn usaha server pulsaku, yg sejak awal kurintis, tdk pernah bersentuhan dng si Abang, namun pd saat konsumen brtambh banyak, akhirny aq terima dana dari si Abang u/ pnambahan modal.

Hari2 kami lalui dng keresahan, memikirkan anak di pondok, dan mulai sadar, ke mana uang usaha, yg seharusny scr itung2n brtmbh banyak keuntunganny, tapi kok, ngga ada uangnya. Keresahan smakin mendalam, sampe aq seakn 'malas' utk mnjalankn usaha, hanya nonton you tube setiap hari. Sampe aq kemudian menonton pmbahasan RIBA di channel KSW, aku pun coba mncari tahu apa itu KSW.

Singkatny kudapatkn informasi, ada agd *SMHTR* tgl 11-12 Okt 2017 di Tasikmalaya.
Kupersiapkn keberangkatan ke Tasik, sore aq sdh siap utk memulai perjalanan dng Bus dari kota kecilku Cilacap.
Namun yg biasanya ada Bus, sampe mnjelang maghrib tptny hari Selasa, 10 Okt, tdk ada. Tukang ojek menyampaikn sdh tdk ada Bus lg, kecuali harus ke Purwokerto, itupun kalo cukup waktu utk mngejar Bus Purwokerto-Bandung. Alla kuli hal, Allah memberikn kesempatan aq utk hadir, pikirku, krn aq mendapatkn Bus terakhir jur. Bandung. Ku hubungi panitia, bgmn aq nanti menginap& ke mana tujuanku, krn aq tdk tahu kota Tasik. Beruntung ada penumpang yg turun di Tasik, hingga aqpun ikut turun.

Dari panitia, aq rencanany di jemput, turun dari Bus, ada orang yg memanggilku, ayo Bapak, aqpun mengikutinya ke spd motor dan menaikinya, keresahan mulai datang, kok ngga sampe2, pdhl kata panitia dekat almt tempat menginapku. Kutanyakan pd penjemputku, bapak..., kok ngga sampe2, katanya dekat. Baru bapak tadi menjawab, lho... ini bapak mau kmn, sy tukang ojek.

Astaghfirrallah....
Sy kira panitia yg menjemputku, Ya Robb, pertanda apakh ini, dar Cilacap sampe Tasik kok spt ini...?
Namun, kemudian kuminta, pak Ojek mngantar ke almt yg diberi panitia.
Malam itu aq merenung, ya Allah, utk mngikuti *SMHTR* kok spt ini, perjalananku. Ya Allah, mdhkan utk menyelesaikn utang2 RIBAku, krn bisa jadi karena RIBA yg kujalani, anakku 'sang penghafal Qur'an' menjadi korbannya, karena kelakuaan Abinya... yg makan RIBA, anaku susah utk mnghafal& bahkan hilang hafalan Qur'anny.
 
#Hari 1
Hari yg istimewa bagiku, sayang istri tercinta tdk hadir, krn mnggantikn posisiku mengurusi pekerjaan yg seharusnya kulakukan. Pmbelajaran istimewa dr *Ust. Samsul Arifin*, membenarkan semua yg aku ulami, yahhh tabiat buruk hutang. Gamblang itu aq alami dan dapatkan di usahaku, yg dibangun dr hutang& RIBA.

#Hari 2
Air mata tak hentinya mengalir stlh tahu, dosa bg para pngutang& orang yg membangun usahany dng RIBA. Sangat NgeRIBAngett pokokny. Coach Jula, mulai menyadarkn aq, ini penyebab anaku hilang hafalan Qur'anny, tdk fokus spt orang terkena pnykt ayan dlm Qur'an. Dari pagi sd sore, air mata ini menetes, membayangkn DOSA dan akibatny pd orang2 tercintaku.

Alhamdulillah..., disesi terakhir coach Jula& Ust Samsul memberikn solusi ats problem yg dahsyaat ini.
Hingga aq berazam utk sgr menjual rumah& sgr menyelesaikn utang& RIBA di samping menggunakan ilmu2 baru utk fokus mengembangkn usaha.
Terima kasih Ust Samsul, coach Jula, panitia,2 shahabat baruku. Akhirnya HIDAYAH itu terkejar.

Malu Aku


Foto Eko Dm. Bada Shubuh, di Mushola Putra stasiun Jatinegara, sampe dng pk. 05.30 untuk memenuhi janjiku mlnjtkn silahturahmi.

Kutemui petugas keamanan stasiun, bada' sholat Shubuh, berdzikir, kemudian mengambil Qur'an dan membacanya dengan suara merdu.

Ya...Robb...
Malu aku, trkadang bada' shubuh, aku "berdzikir dng gadgetku", hingga waktu lewat begitu saja.
Bapak, terima kasih. Memandangmu, tidak beranjak meski kau sdh baca Qur'an. Mebuat aku takjub, terima kasih atas pembelajarannya, disela2 engkau bertugas, engkau tidak lalaikan urusan dengan penciptaMu.
Mohon ma'af aku ambil gambarmu, sebagai buah tangan bagi keluargaku.

Semoga hidupmu penuh dengan keberkahan& keberlimpahan, karena ishaaAllah kau telah memantaskan dirimu dihadapan Allah SWT. Dan kamipun belajar darimu. Aamiin...

SANG PEMBELAJAR*

Usianya sudah tidak muda lagi, seingatku 70tahunan hadir bersama sang bidadarinya. ( _Jadi ingat kedua orang tuaku, ya Allah..., berkahi mereka_ ). Alhamdulillah, aku sempat belajar bareng bersama, bahkan beliau mengimami kami sholat.
Perjalanan ke tempat acara, dan kegiatan 2 hari penuh dari pk. 08.00-21.00 bahkan di hari terakhir sampe pk. 22.an. Tentu menyita energi yang sangat besar, namun senyum yang mengembang& semangat yg ter lihat. Hingga bersama kami belajar 2 hari penuh.

*_Sahabat AHLI SURGA_*, apa yang membuat beliau powerfull?, hingga hadir di acara *SMHTR* ( _Seminar Mengembangkan Harta Tanpa RIBA_).
*PERUBAHAN BESAR*, yah... perubahan besar dan fundamental pada putri beliau yang seorang dokter.

Perubahan hidup, perubahan dalam mengembangkan usaha. Sehingga sang putri bebas dari RIBA, dan berubah jalan hidupnya yang menjadikan beliau hadir.
Beliau menyampaikan, " jika putriku yang aku ajari bisnis dengan RIBA, bisa berubah". Maka sudah seharusnya, aku yg mengajari anakku mengenal RIBA harus berubah& moga dengan kehadiranku bisa menebus kesalahan-kesalahanku.

*_Sahabat AHLI SURGA_*, tidak kita menginginkan keluarga yang demikian. Keluarga yang penuh dengan keharmonisan, keluarga yang saling menguatkan, yang siap menghadapi kondisi apapun demi meraih Ridho Allah SWT& menjadi AHLI SURGA. Aamiin....

*_Sahabat AHLI SURGA_*, apakah anda ingin hutang2 nya lunas...?!, ( _angkat tangan kananya katakan: "saya"_).

Apakah anda ingin bisnis jalan dan anda berjalan2 bersama keluarga...?!, ( _Angkat tangan kirinya katakan: "saya"_ ).

Apakah anda ingin ke dua2nya...?!! ( _Angkat ke dua tangan katakan: "saya"_).
Takbiir...!!!
Allahu Akbar...!!!
*_Sahabat AHLI SURGA_*, di *SMHTR*, kami _diinstall_ kembali mengenai *jalan hidup* yg kita lalui sekarang, dari mana, untuk apa dan mau kemana kita dalam hidup. 3 pertanyaan buesar ini, yg memerlukan jawaban. Ya..., jawaban yg tepat tentunya, sehingga kita akan menjadi hamba *Allah SWT yang paripurna dan unstopable*.
_Asyik.... apa asyik....?!_

Bila yang sudah tua saja menjadi *Sang Pembelajar*, lalu hujjah apa kelak dihadapan Allah SWT, kalo kita sekarang merasa cukup & tidak mau belajar

Senin, 13 April 2015

UWAIS AL-QARNI “Hamba Yang Sangat Terkenal Di Langit , Tapi Tak Terkenal Di Dunia”

Rasulullah Saw bercerita mengenai Uwais al-Qarni tanpa pernah melihatnya. Beliau Saw bersabda, “Dia seorang penduduk Yaman, daerah Qarn, dan dari kabilah Murad. Ayahnya telah meninggal. Dia hidup bersama ibunya dan dia berbakti kepadanya. Dia pernah terkena penyakit kusta. Dia berdoa kepada Allah Swt, lalu dia berdo’a kepada Allah Swt, lalu dia diberi kesembuhan, tetapi masih ada bekas sebesar dirham di kedua lengannya. Sungguh, dia adalah pemimpin para tabi’in.”

Uwais Al Qarni adalah seorang anak dari Amir, sehingga dia mempunyai nama lengkap Uwais bin Amir Al Qairani, karena beliau lahir dilahirkan di desa yang bernama Qaran, sehingga beliau lebih di kenal dengan sebutan Uwais Al Qarni. Dan para ahli sejarah tidak menceritakan tanggal dan tahun berapa beliau dilahirkan.

Dikalangan para sufi beliau dikenal sebagai seorang yang ta’at dan berbakti kepada kedua orang tua, dan kehiduapannya yang amat sederhana dan zuhud yang sejati, beliau juga dikenal sebagai orang sufi yang mempunyai ilmu kesucian diri yang amat luar biasa yang dilimpahkan Allah Swt kepadanya.
Seorang pemuda yang mempunyai mata berwarna biru, rambutnya merah, pundaknya lapang panjang, berpenampilan cukup tampan, kulitnya kemerah-merahan, dagunya menempel di dada karena kebiasaan selalu melihat pada tempat sujudnya, tangan kanannya menumpang pada tangan kirinya, seorang yang ahli dalam membaca Al Qur’an dan menangis, pakaiannya hanya punya dua helai yang sudah kusut dimana yang satu untuk penutup badan dan yang satunya digunakan untuk selendangan,tiada seorang pun yang menghiraukannya, tidak dikenal oleh penduduk bumi akan tetapi sangat terkenal di langit.

Dia (Uwais al Qarni), jika bersumpah maka demi Allah pasti akan Ijabah/ terkabul. Pada hari kiamat nanti ketika semua ahli ibadah dipanggil disuruh masuk surga, dia justru dipanggil agar berhenti dahulu dan mendapat perintah oleh Allah Swt untuk memberikan syafa’atnya, ternyata Allah Swt memberikan kelebihan yang berupa izin untuk memberi syafa’at sejumlah Qobilah Robi’ah dan Qobilah Mudhor, yang semua dimasukkan surga tanpa ada yang ketinggalan karenanya.
Dia adalah “Uwais Al-Qarni”.
Ia tidak dikenal banyak orang dan juga sangat miskin, banyak orang suka menertawakannya, mengolok-oloknya, dan menuduhnya sebagai tukang membujuk, tukang mencuri, serta berbagai macam umpatan dan penghinaan lainnya.

Seorang Fuqoha’ dari negeri Kuffah, karena ingin duduk dengannya lalu memberinya hadiah berupa dua helai pakaian, tapi tak berhasil dengan baik karena hadiah pakaian tadi setelah diterimanya lalu dikembalikan lagi olehnya seraya berkata : “Aku khawatir, nanti sebagian orang menuduh aku, darimana kamu mendapatkan pakaian itu, kalau tidak dari membujuk pasti dari mencuri”.
Pemuda dari desa Qorn – Yaman ini telah lama menjadi yatim, tak punya sanak famili kecuali hanya ibunya yang telah tua renta dan lumpuh. Yang masih tersisa hanyalah penglihatannya yang sudah kabur.. Untuk mencukupi kehidupannya sehari-hari, Uwais bekerja sebagai penggembala kambing dan unta. Upah yang diterimanya hanya cukup untuk sekedar menopang kesehariannya bersama Sang ibu, bila ada kelebihan, ia pergunakan untuk membantu tetangganya yang hidup miskin dan serba kekurangan seperti keadaannya. Beliau lahir dan besar di Yaman. Kesibukannya sebagai penggembala domba dan merawat ibunya yang lumpuh dan buta tidak mempengaruhi kegigihannya dalam beribadah, ia tetap melakukan puasa di siang hari dan selalu bermunajat di malam harinya.Adz Dzahabi berkata mengenai beliau, “Seorang teladan yang zuhud, penghulu para tabi’in di zamannya, termasuk diantara wali-wali Allah yang shalih lagi bertaqwa, dan hamba-hamba-Nya yang ikhlas” (Siyar A’lam An Nubala’ 4/19)

Uwais al-Qarni telah memeluk Islam pada masa negeri Yaman mendengar seruan Nabi Muhammad Saw. yang telah mengetuk pintu hati mereka untuk menyembah Allah Swt, yang tak ada sekutu bagi-Nya.
Islam mendidik setiap pemeluknya agar berakhlak luhur dan mulia. Peraturan-peraturan yang terdapat di dalamnya sangat menarik hati Uwais al Qarni, sehingga setelah seruan Islam datang di negeri Yaman, ia segera memeluknya, karena selama ini hati Uwais al Qarni selalu merindukan datangnya suatu kebenaran. Banyak tetangganya yang telah memeluk Islam, pergi ke Madinah untuk mendengarkan ajaran dari Nabi Muhammad Saw secara langsung. Dan sekembalinya di Yaman, mereka memperbaharui kehidupan rumah tangga mereka dengan cara kehidupan menurut tuntunan ajaran Islam.

Alangkah sedihnya hati Uwais al Qarni setiap melihat tetangganya yang baru datang dari Madinah. Mereka itu telah “Bertamu dan Bertemu” dengan kekasih Allah penghulu para Nabi, sedangkan ia sendiri belum.
Kecintaannya kepada Rasulullah Saw menumbuhkan kerinduan yang sangat kuat untuk bertemu dengan sang kekasih, tapi apalah daya ia tak punya bekal yang cukup untuk ke Madinah, dan yang lebih ia beratkan adalah sang ibu yang jika ia pergi, maka tak ada yang merawatnya.
Di ceritakan ketika terjadi perang Uhud Rasulullah Saw mendapat cedera dan giginya patah karena dilempari batu oleh musuh-musuhnya. Kabar ini akhirnya terdengar oleh Uwais al Qarni. Ia segera memukul giginya dengan batu hingga patah. Hal tersebut dilakukannya adalah sebagai bukti kecintaannya kepada Nabi Muhammad Saw, sekalipun ia belum pernah melihatnya.

Hari berganti dan musim berlalu, dan kerinduan yang tak terbendung membuat hasrat untuk bertemu tak dapat dipendam lagi. Uwais merenungkan diri dan bertanya dalam hati, kapankah ia dapat menziarahi Nabinya dan memandang wajah beliau dari dekat ?
Tapi, bukankah ia mempunyai ibu yang sangat membutuhkan perawatannya dan tak tega ditingalkan sendiri, hatinya selalu gelisah siang dan malam menahan kerinduan untuk berjumpa.
Akhirnya, pada suatu hari Uwais al Qarni mendekati ibunya, mengeluarkan isi hatinya dan memohon izin kepada ibunya agar diperkenankan pergi menziarahi Nabi Saw di Madinah. Sang ibu, walaupun telah uzur, merasa terharu ketika mendengar permohonan anaknya.
Beliau memaklumi perasaan Uwais al Qarni, dan berkata : “Pergilah wahai anakku ! temuilah Nabi Saw di rumahnya. Dan bila telah berjumpa, segeralah engkau kembali pulang”.
Dengan rasa gembira ia berkemas untuk berangkat dan tak lupa menyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkan serta berpesan kepada tetangganya agar dapat menemani ibunya selama ia pergi.
Sesudah berpamitan sambil menciumi sang ibu, berangkatlah Uwais al Qarni menuju Madinah yang berjarak kurang lebih 400 kilometer dari Yaman. Medan yang begitu ganas dilaluinya, tak peduli penyamun gurun pasir, bukit yang curam, gurun pasir yang luas yang dapat menyesatkan dan begitu panas di siang hari, serta begitu dingin di malam hari, semuanya dilalui demi bertemu dan dapat memandang sepuas-puasnya paras baginda Nabi Muhammad Saw yang selama ini dirindukannya.
Tibalah Uwais al-Qarni di kota Madinah. Segera ia menuju ke rumah Nabi Muhammad Saw, diketuknya pintu rumah itu sambil mengucapkan salam.
Keluarlah sayyidatina ‘Aisyah R.ha sambil menjawab salam Uwais al Qarni. Segera saja Uwais al Qarni menanyakan Nabi yang ingin dijumpainya. Namun ternyata Nabi Muhammad Saw sedang tidak berada di rumah melainkan sedang berada di medan perang. Betapa kecewa hati sang perindu, dari jauh ingin berjumpa tetapi yang dirindukannya tak berada di rumah.
Dalam hatinya bergolak perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi Muhammad Saw dari medan peperangan.
Tapi, kapankah beliau pulang ?
Sedangkan masih terngiang di telinganya akan pesan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan itu, agar ia cepat pulang ke Yaman,” Engkau harus lekas pulang”.
Karena ketaatan kepada ibunya, pesan ibunya tersebut telah mengalahkan suara hati dan kemauannya untuk menunggu dan berjumpa dengan Nabi Muhammad Saw.
Ia akhirnya dengan terpaksa mohon pamit kepada sayyidatina ‘Aisyah R.ha untuk segera pulang ke negerinya. Dia hanya menitipkan salamnya untuk Nabi Muhammad Saw dan melangkah pulang dengan perasaan haru.
Sepulangnya dari perang, Nabi Muhammad Saw langsung menanyakan tentang kedatangan orang yang mencarinya. Nabi Muhammad Saw menjelaskan bahwa Uwais al-Qarni adalah anak yang taat kepada ibunya. Ia adalah penghuni langit (sangat terkenal di langit).
Mendengar perkataan Rasulullah Saw, sayyidatina ‘Aisyah R.ha dan para sahabatnya tertegun.
Menurut informasi sayyidatina ‘Aisyah R.ha, memang benar ada seseorang yang mencari Nabi Saw dan segera pulang kembali ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama.
Rasulullah Saw bersabda : “Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia (Uwais al-Qarni), perhatikanlah, ia mempunyai tanda di tengah-tengah telapak tangannya.”
Sesudah itu beliau Saw, memandang kepada sayyidina Ali R.a dan sayyidina Umar R.a dan bersabda : “Suatu ketika, apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah do’a dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit dan bukan penghuni bumi”.
Tahun terus berjalan, dan tak lama kemudian Nabi Saw wafat, hingga kekhalifahan sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq R.a telah di lanjutkan kepada Khalifah Umar R.a.
Ketika Umar R.a menjabat sebagai Amirul Mukminin, khalifah Umar R.a teringat akan sabda Nabi Muhammad Saw tentang Uwais al-Qarni, sang penghuni langit. Beliau segera mengingatkan kepada sayyidina Ali R.a untuk mencarinya bersama-sama.
Sejak saat itu, setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, beliau berdua selalu menanyakan tentang Uwais al-Qorni, apakah ia turut bersama mereka. Di antara kafilah-kafilah itu ada yang merasa heran, apakah sebenarnya yang terjadi sampai-sampai ia dicari oleh khalifah Amirul Mukminin Umar R.a dan sayyidina Ali R.a.
Suatu ketika ada rombongan kafilah dari Yaman menuju Syam datang dan pergi silih berganti, membawa barang dagangan mereka.
Mereka bertanya kepada para rombongan kafilah dari Yaman di Baitullah, “Apakah di antara warga kalian ada yang bernama Uwais al-Qarni?”
“Ada,” jawab mereka.
Umar R.a melanjutkan, “Bagaimana keadaannya ketika kalian meninggalkannya?”
Mereka menjawab tanpa mengetahui derajad Uwais al Qarni, “Kami meninggalkannya dalam keadaan miskin harta benda dan pakaiannya telah usang.”
Umar R.a berkata kepada mereka, “Celakalah kalian. Sungguh, Rasulullah Saw pernah bercerita tentangnya. Kalau dia bisa memohonkan ampun kepada Allah Swt untuk kalian, Lakukanlah…!”
Mendengar jawaban itu, khalifah Amirul Mukminin Umar R.a dan sayyidina Ali R.a bergegas pergi menemui Uwais al-Qorni. Sesampainya di kemah tempat Uwais berada, Khalifah Umar R.a dan sayyidina Ali R.a memberi salam. Namun rupanya Uwais al Qarni sedang melaksanakan sholat. Setelah mengakhiri sholatnya, Uwais menjawab salam kedua tamu agung tersebut sambil bersalaman. Lalu Khalifah Umar R.a bermaksud hendak memastikannya terlebih dahulu,
Lantas beliau bertanya “Siapakah namamu wahai saudaraku ?” Tanya Umar R.a
“Abdullah”, jawab Uwais al Qarni.
Mendengar jawaban itu, kedua sahabatpun tertawa dan mengatakan, “Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya ?”
Uwais kemudian berkata: “Anda berdua sebetulnya siapa?”
Kami ini Amirul Mu’minin Umar bin Al- Khottob dan ini Ali”
Ketika itu barulah Uwais al Qarni kemudian berkata: “Nama saya Uwais al-Qorni”.
Umar R.a melanjutkan, “Darimana kamu berasal..?”
“Dari Yaman” Jawab Uwais al Qarni
Kamu berasal dari Yaman daerah mana?’
Dia menjawab, “Dari Qarn.”
“Tepatnya dari kabilah mana?” Tanya Umar R.a.
Dia menjawab, “Dari kabilah Murad.”
Umar R.a bertanya lagi, “Bagaimana ayahmu?”
“Ayahku telah meninggal dunia. Saya hidup bersama ibuku,” jawabnya.
Umar R.a melanjutkan, “Bagaimana keadaanmu bersama ibumu?’
Uwais al Qarniberkata, “Saya berharap dapat berbakti kepadanya.”
Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais al Qarni telah meninggal dunia. Itulah sebabnya, ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu.
“Apakah engkau pernah sakit sebelumnya?” lanjut Umar R.a.
“Iya. Saya pernah terkena penyakit kusta, lalu saya berdo’a kepada Allah Swt sehingga saya diberi kesembuhan.” Jawab Uwais al Qarni
Umar R.a bertanya lagi, “Apakah masih ada bekas dari penyakit tersebut?”
Dia menjawab, “Iya. Di lenganku masih ada bekas sebesar dirham.”
Dia memperlihatkan lengannya kepada Umar R.a. Ketika Umar R.a melihat hal tersebut, maka dia langsung memeluknya seraya berkata, “Engkaulah orang yang diceritakan oleh Rasulullah Saw. Mohonkanlah ampun kepada Allah Swt untukku!”
Uwais al Qarni enggan dan dia berkata kepada khalifah: “Sayalah yang harus meminta do’a dan Istighfar kepada kalian”.
Mendengar perkataan Uwais al Qarni, Khalifah berkata: “Kami datang kesini atas wasiat dari Rasulullah Saw untuk mohon do’a dan istighfar dari anda”.
Uwais menjawab: “Do’aku bukan hanya untuk kalian berdua, namun untuk seluruh penghuni alam”.
Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais al-Qorni akhirnya mengangkat kedua tangannya, berdo’a dan membacakan istighfar bagi kedua sahabat tersebut.
Selanjutnya Umar R.a bertanya kepadanya mengenai kemana arah tujuannya setelah perjalanan ini.
Dia menjawab, “Saya akan pergi ke kabilah Murad dari penduduk Yaman ke Irak.”
Setelah itu Khalifah Umar R.a. berjanji untuk menyumbangkan uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais al Qarni untuk jaminan hidupnya.
Segera saja Uwais al Qarni menolak dengan halus dengan berkata : “Hamba mohon kepada Anda wahai Amriul Mukminin agar engkau tidak melakukannya. Untuk hari-hari selanjutnya biarkanlah hamba yang fakir ini berjalan di tengah lalu lalang banyak orang tanpa dipedulikan atau diketahui orang.”
Setelah kejadian itu, nama Uwais al Qarni kembali tenggelam tak terdengar beritanya. Tapi ada seorang lelaki pernah bertemu dan di tolong oleh Uwais al Qarni , waktu itu kami sedang berada di atas kapal menuju tanah Arab bersama para pedagang, tanpa disangka-sangka angin topan berhembus dengan kencang. Akibatnya hempasan ombak menghantam kapal kami sehingga air laut masuk ke dalam kapal dan menyebabkan kapal semakin berat. Pada saat itu, kami melihat seorang laki-laki yang mengenakan selimut berbulu di pojok kapal yang kami tumpangi, lalu kami memanggilnya. Lelaki itu keluar dari kapal dan melakukan sholat di atas air. Betapa terkejutnya kami melihat kejadian itu.
“Wahai waliyullah,” Tolonglah kami !” tetapi lelaki itu tidak menoleh.
Lalu kami berseru lagi,” Demi Dzat yang telah memberimu kekuatan beribadah, tolonglah kami!”
Lelaki itu menoleh kepada kami dan berkata: “Apa yang terjadi ?”
“Tidakkah engkau melihat bahwa kapal dihembus angin dan dihantam ombak ?” tanya kami.
“Dekatkanlah diri kalian pada Allah ! “katanya.
“Kami telah melakukannya.” jawab kami
“Keluarlah kalian dari kapal dengan membaca Bismillahirrohmaanirrohiim!” Kami pun keluar dari kapal satu persatu dan berkumpul di dekat itu.
Pada saat itu jumlah kami lima ratus jiwa lebih. Sungguh ajaib, kami semua tidak tenggelam, sedangkan perahu kami berikut isinya tenggelam ke dasar laut.
Lalu orang itu berkata pada kami ,”Tak apalah harta kalian menjadi korban asalkan kalian semua selamat”.
“Demi Allah, kami ingin tahu, siapakah nama Tuan ? “Tanya kami.
“Uwais al-Qorni”. Jawabnya dengan singkat.
Kemudian kami berkata lagi kepadanya, “Sesungguhnya harta yang ada di kapal tersebut adalah milik orang-orang fakir di Madinah yang dikirim oleh orang Mesir.”
“Jika Allah mengembalikan harta kalian. Apakah kalian akan membagi-bagikannya kepada orang-orang fakir di Madinah?” tanyanya.
”Ya,” jawab kami.
Orang itu pun melaksanakan sholat dua rakaat di atas air, lalu berdo’a.
Setelah Uwais al-Qorni mengucap salam, tiba-tiba kapal itu muncul ke permukaan air, lalu kami menumpanginya dan meneruskan perjalanan. Setibanya di Madinah, kami membagi-bagikan seluruh harta kepada orang-orang fakir di Madinah, tidak satupun yang tertinggal.
Beberapa waktu kemudian, tersiar kabar kalau Uwais al-Qorni telah pulang ke rahmatullah. Anehnya, pada saat dia akan dimandikan tiba-tiba sudah banyak orang yang berebutan untuk memandikannya. Dan ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, disana sudah ada orang-orang yang menunggu untuk mengkafaninya.
Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali kuburnya. Di sana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa menuju ke pekuburan, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk mengusungnya.
Dan Syeikh Abdullah bin Salamah menjelaskan, “ketika aku ikut mengurusi jenazahnya hingga aku pulang dari mengantarkan jenazahnya, lalu aku bermaksud untuk kembali ke tempat penguburannya guna memberi tanda pada kuburannya, akan tetapi sudah tak terlihat ada bekas kuburannya.
(Syeikh Abdullah bin Salamah adalah orang yang pernah ikut berperang bersama Uwais al-Qorni pada masa pemerintahan sayyidina Umar R.a.)
Meninggalnya Uwais al-Qorni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi hal-hal yang amat mengherankan. Sedemikian banyaknya orang yang tak dikenal berdatangan untuk mengurus jenazah dan pemakamannya, padahal Uwais al Qarni adalah seorang fakir yang tak dihiraukan orang.
Sejak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, di situ selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu. Penduduk kota Yaman tercengang.
Mereka saling bertanya-tanya: “Siapakah sebenarnya engkau wahai Uwais al-Qorni ? “
Bukankah Uwais al Qarni yang kita kenal, hanyalah seorang fakir yang tak memiliki apa-apa,
yang kerjanya hanyalah sebagai penggembala domba dan unta ?
Tapi, ketika hari wafatmu, engkau telah menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenal.
Mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya. Agaknya mereka adalah para malaikat yang di turunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamannya.
KEISTIMEWAAN UWAIS AL QARNI
► Walaupun beliau tidak pernah bertemu dengan Rasulullah Saw, tetapi rohaninya selalu berhubungan.
► Pada hari kiamat nanti, dimana semua manusia akan dibangkitkan kembali, Uwais Al Qarni akan memberikan syafa’at kepada sejumlah manusia sebanyak domba yang dimiliki Rabi’ah dan Mundhar, demikian yang disabdakan Rasulullah Saw kepada Ali bin Abi Thalib dan Umar bin Khattab.
► Beliau adalah seorang sufi yang amat sederhana, takut dan ta’at pada Allah Swt, ta’at pada Rasulullah Saw dan kedua orang tuanya. Pada waktu siang hari beliau selalu giat bekerja, tetapi walaupun beliau pada siang hari giat bekerja, mulutnya selalu membaca istighfar dan membaca ayat-ayat Al Quran.
► Setiap hari beiau selalu dalam keadaan lapar dan hanya memiliki pakaian yang melekat pada tubuhnya. Ini menunjukkan bahwa beliau hidup sangat sederhana sekali. Daan dalam kesederhanaan itu beliau selalu berdo’a kepada Allah Swt, “Ya Allah, janganlah ENGKAU siksa aku karena ada yang mati kelaparan dan jangan pula ENGKAU siksa aku karena ada yang kedinginan”.
► Beliau selalu bersam Tuhan dan orang-orang yang lemah. Beliau dapat merasakan penderitaan yang dialami oleh orang-orang yang lemah dan membuat dirinya seperti mereka sebagaimana yang pernah diamalkan Rasulullah Saw.
Banyaknya keistimewaan yang dimiliki oleh seorang Uwais Al Qarni, hingga membuat Rasulullah Saw memerintahkan kepada Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib untuk menemui Uwais sambil menyampaikan salam dari Rasulullah Saw.
Ketika Umar dan Ali berhasil menemui Uwais, terjadilah percakapan sebagaimana yang telah dituturkan oleh Abu Na’im Al Asfahani,
Umar ► “apa yang anda kerjakan disini.?”
Uwais ► “Disini saya bekerja sebagai penggembala”
Umar ► “Siapa sebenarnya anda ini.?”
Uwais ► “Saya adalah hamba Allah Swt
Umar ► “Semuanya sudah tahu, kita semua adalah hamba Allah Swt, izinkanlah kami mengetahui dan mengenal anda lebih dekat”
Uwais ► “Silahkan”
Umar dan Ali ► “Setelah kami perhatikan, kami mempunyai kesimpulan bahwa anda inilah orang yang pernah diceritakan Rasulullah Saw kepada kami, oleh karena itu berilah kami pelajaran dan do’akan kami agar memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat”.
Uwais ► “Saya tidak mendo’akan seseorang secara khusus. Setiap hari kami elalu mendo’akan kepada seluruh umat Islam. Siapa sebenarnya anda berdua ini.?”.
Ali ► “Beliau adalah Umar bin Khattab Amirul Mukminin dan saya adalah Ali bin Abi Thalib, kami berdua diutus Rasulullah Saw menemui anda dan menyampaikan salam dari Rasulullah Saw.
Uwais ► “Assalaamu ‘alaikum wahai Amirul Mukminin dan wahai Ali bin Abi Thalib, semoga Allah Swt selalu memberi kebaikan kepada tuan berdua atas jasa-jasa tuan kepada umat Islam”.
Umar ► “Berilah kami pelajaran yang bermanfaat wahai hamba Allah”.
Uwais ► “Carilah Rahmat Allah Swt dengan ta’at dan mengikuti dengan penuh pengharapan dan takutlah tuan kepada Allah Swt.”
Umar ► “Terima kasih atas pelajaran yang anda berikan pada kami yang sangat berharga ini. Dan kami telah menyediakan kepada anda seperangkat pakaian dan uang untuk tuan. Kami mengharapkan agar anda menerimanya.”
Uwais ► “Terima kasih wahai Amirul Mukminin, kami tidak menolak dan juga tidak membutuhkan apa yang tuan awa. Upah yang saya terima 4 dirham itu sangat berlebihan, sehingga sisanya saya berikan kepada ibuku. Sehari-hari saya hanya memakan buah korma dan minum air putih dan sayaini belum pernah memakan makanan yang dimasak. Kurasakan hidupku ini seolah-olah tidak sampai pada petang hari dan kalau tiba petang hari saya tidak merasa sampai pada pagi hari. Hati saya selalu mengingat Allah Swt dan sangat kecewa kalau tidak sampai mengingat-Nya.
Ada beberapa pokok pelajaran dari seorang Uwais al Qarni agar manusia memperoleh kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
“Seseorang akn memperoleh ketenangan dan ketenteraman jika hatinya selalu berdzikir kepada allah Swt dan tidak pernah terputus.”
“Dan bahwa Hati itu hanyalah untuk Allah Swt, bukan untuk yang lainnya. Oleh karena itu kuasailah nafsu dan tundukkanlah secara penuh.”
SUBHANALLAH ….
Ternyata beliau tak terkenal di bumi , tapi terkenal di langit….
Semoga kita mampu memetik hikmah dan teladan atas kisah ketakwaan ini.

Inspiratif: Kisah Sultan Murad IV Dengan Jenazah Yang Tidak Ingin Disholatkan Masyarakat

Salah seorang Sultan dinasti Utsmaniyah yang cukup terkenal adalah Sultan Murad IV. Beliau yang bernama asli Murad oğlu Ahmed lahir pada tanggal 16 Juni 1612  dan wafat pada 9 Februari 1640. Beliau menjabat sebagai sultan Turki Utsmaniyah dari 10 September 1623 hingga 9 Februari 1640. Beliau adalah anak dari Sultan Ahmed I dan Sultan Kosem yang berdarah Yunani.
Sultan Murad IV terkenal karena keberaniannya melakukan reformasi otoritas negara dan kebrutalan metodenya.

Perjalan hidup beliau diwarnai banyak kisah dan hikayat yang mengagumkan. Di antaranya adalah kisah beliau dengan jenazah seorang yang dituduh masyarakat sebagai orang zindiq sehingga mereka enggan menyolatkannya.

Alkisah, pada suatu malam Sultan Murad merasa sangat gundah dan risau, beliau pun kemudian memanggil kepala penjara/sipir dan memberitahukan tentang keadaannya yang sedang gundah.

Beliau kemudian berkata kepada Kepala Sipir :

"Mari kita keluar berjalan-jalan di melihat keadaan masyarakat".

Akhirnya mereka berdua pun berangkat dengan menyamar hingga sampailah di sebuah penghujung desa. Tapi alangkah terkejutnya sang Sultan begitu ia melihat sesosok jasad laki-laki terbujur di tana. Sang Sultan pun mendekat dan menggerak-gerakkannya untuk memeriksa apakah pria ini masih hidup atau sudah meninggal dunia.

Ternyata, pria tersebut telah meninggal dunia. Tapi yang lebih mengherankan beliau, Sultan memperhatikan masyarakat yang lalu lalang dan melintas di tempat tersebut tidak mempedulikan mayat pria tersebut.

Sultan pun memanggil mereka, dan mereka tidak menyadari bahwa yang memanggil tersebut adalah Sultan mereka,

"Ada apa saudara?". tanya seorang warga ketika dipanggil oleh Sultan.

"Mengapa pria ini meninggal dunia di kampung kalian ini, tapi tidak seorangpun yang mempedulikannya? Mengapa tidak dimandikan, disholatkan, dan dikuburkan?". Tanya Sultan.

"Warga di sini tidak sudi, saudara".

"Mengapa demikian? Memangnya siapa orang ini? Di mana keluarganya?". Tanya Sultan.

"Begini saudara, pria yang meninggal ini adalah seorang zindiq, suka minum khamar, suka berzina". Ujar orang tersebut menjelaskan alasannya.

"Tapi, bukankah dia masih seorang Muslim? Bukankah dia adalah umat Nabi Muhammad SAW? Alangkah baiknya kita bawa mayat ini ke rumah keluarganya".

Akhirnya, mereka pun membawa mayat tersebut kepada keluarga. Ketika sampai di rumah, orang tersebut pulang, dan tinggallah Sultan dan pengawalnya.

Melihat ada orang datang, alangkah terkejutnya istri pria yang sudah wafat tersebut mengetahui apa yang telah terjadi. Ia pun langsung menangis.

Namun tatkala sang wanita itu menangis, ia kemudian berkata kepada Sultan (yang mana ia tidak tahu bahwa orang tersebut adalah seorang Sultan):

"Semoga Allah Swt merahmatimu wahai wali Allah, aku bersaksi bahwa engkau sungguh wali Allah...".

Alangkah terherannya Sultan mendengar ucapan wanita tersebut, dan beliau berkata:

"Bagaimana mungkin aku termasuk wali Allah? Sementara aku membawa jenazah orang yang tidak disukai masyarakat! Aku sudah mendengar betapa buruknya penilaian orang-orang terhadap mayat suamimu ini, sehingga mereka enggan mengurusi jenazahnya". Jawab Sultan.

"Aku sudah menduga hal ini akan terjadi... ". Ujar wanita tersebut.

"Aku ingin menceritakan kepada tuan sebuah rahasia! Sungguh, suamiku dulu semasa hidupnya setiap malam sering pergi ke penjual arak, lantas dia membeli seberapa banyak yang dia bisa beli, kemudian ia membawa arak itu pulang ke rumah kami dan kemudian ia menumpahkan seluruh arak itu ke toilet, dan suamiku itu berkata: 'Aku berharap semoga aku bisa meringankan keburukan arak ini dari kaum muslimin...'

Suamiku juga selalu pergi kepada para pelacur dan memberi mereka uang. Lalu suamiku berkata kepada mereka: 'Malam ini kau kubayar dan jangan kau buka pintu rumahmu untuk melacur hingga pagi besok atau selamanya...'.

Setelah itu, suamiku pulang ke rumah dan berujar : 'Alhamdulillaah, semoga dengan itu aku bisa meringankan keburukan dari para pelacur ini dari pemuda-pemuda muslim malam ini...'.

Namun tahukah tuan, masyarakat di sini menyaksikan dan mengetahui perbuatan suamiku terssebut, dan mereka mengira suamiku suka mabuk-mabukan dan suka berzina dengan para pelacur... hingga mereka menganggapnya sebagai orang buruk dan zindiq...

Dan untuk Tuan ketahui, pernah suatu hari aku berkata pada suamiku : 'Sungguh jika seandainya engkau mati, mungkin tidak ada orang yang akan memandikanmu, menyolatkanmu, dan menguburkanmu'.

Suamiku pun tersenyum dan menjawab : 'Jangan khawatir sayangku... Justru pemimpin kaum muslimin lah yang akan menyolatkanku beserta para ulama dan pembesar-pembesar negeri ini..". Cerita wanita itu panjang lebar sambil menangis.

Alangkah terkesimanya Sultan mendengar cerita wanita tersebut, dan tak lama kemudian beliau pun menangis dan berkata:

"Suamimu benar...  Demi Allah, aku adalah Sultan Murad, dan besok kami akan memandikan suamimu, menyolatkannya bersama pembesar negeri ini dan menguburkannya ".